Bab 3 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN ABBASIYAH- Daulah Abbasiyah
Kemakmuran ekonomi Daulah Abbasiyah dibangun di atas kontinuitas
sejarah dan pemanfaatan aset-aset strategis dari peradaban terdahulu. Faktor
geografis yang paling krusial adalah penguasaan atas wilayah Mesopotamia, yang
dalam sejarah Islam disebut sebagai tanah Al-Sawad di Irak. Wilayah ini
merupakan salah satu pusat agraris paling subur di dunia berkat aliran Sungai
Tigris dan Sungai Eufrat. Penguasaan atas lumbung pangan legendaris ini
memberikan jaminan ketahanan pangan dan modal kapital yang luar biasa bagi
stabilitas awal pemerintahan Abbasiyah.
Warisan Institusional dari Dinasti Umayyah
Meskipun naik ke panggung kekuasaan melalui jalur revolusi bersenjata, Dinasti
Abbasiyah tetap mengadopsi dan memanfaatkan fondasi ekonomi kokoh yang
telah diletakkan oleh Dinasti Umayyah, antara lain:
Arabisasi Birokrasi: Kebijakan penyeragaman bahasa Arab sebagai bahasa
resmi administrasi negara mempermudah proses pencatatan, pelaporan
keuangan, dan kontrol ekonomi dari pusat ke daerah.
Standardisasi Moneter: Sistem mata uang tunggal berupa dinar emas dan
dirham perak yang diinisiasi oleh Umayyah diadopsi penuh oleh Abbasiyah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kelancaran transaksi
dagang domestik maupun internasional.
Faktor Fiskal sebagai Katalis Revolusi
Materi ini juga menjelaskan bahwa kejatuhan Dinasti Umayyah sangat
dipengaruhi oleh kebijakan fiskal mereka yang diskriminatif. Pada masa akhir
Umayyah, pemerintah menerapkan sistem perpajakan yang memberatkan kaum
mawali (warga Muslim non-Arab, seperti bangsa Persia dan Khurasan). Meskipun
telah memeluk Islam, mereka tetap diwajibkan membayar pajak bumi (kharaj)
dan pajak perlindungan (jizyah) dengan tarif yang setara dengan warga
non-Muslim. Ketimpangan fiskal ini memicu kecemburuan sosial, kemarahan
ekonomi, dan pergolakan di tingkat akar rumput. Sentimen negatif ini
dimanfaatkan secara taktis oleh gerakan perlawanan Abbasiyah untuk
menghimpun dukungan massa makelar dari kalangan mawali, hingga akhirnya
berhasil menumbangkan Umayyah dalam Pertempuran Zab pada tahun 750 M.
Sintesis Teknologi Irigasi Lintas Peradaban
Setelah memegang kendali kekuasaan, Abbasiyah membuktikan diri
sebagai pengelola peradaban yang ulung dengan melakukan sintesis teknologi.
Mereka memugar, merawat, dan memperluas jaringan kanal raksasa serta
bendungan irigasi canggih peninggalan Kekaisaran Sasanid Persia dan Kekaisaran
Byzantium. Alokasi dana yang masif dikerahkan untuk memastikan pasokan air
sungai dapat menjangkau lahan-lahan pertanian baru yang sebelumnya gersang.
Pertemuan antara teknologi pengairan tingkat tinggi warisan Persia-Byzantium
dengan jaminan kepastian hukum agraria berdasarkan syariat Islam inilah yang
menjadi motor penggerak utama di balik lonjakan drastis produktivitas sektor
pertanian Abbasiyah.
LINK BUKU
Rasulullah dan Khulafaurasyidin:https://ewhb.baitsyariah.id/product/0020/
Daulah Umayyah:https://ewhb.baitsyariah.id/product/0021/
Daulah Abbasiyah:https://ewhb.baitsyariah.id/product/0022/
Daulah Utsmaniyah:https://ewhb.baitsyariah.id/product/0023/
Kerajaan Islam Di Indonesia:https://ewhb.baitsyariah.id/product/0024/
Komentar
Posting Komentar